kerajinan dari bambu di sekitar kita

kerajinan dari bambu di sekitar kita

Coba kita berpikir sejenak tentang barang-barang yang ada di sekiling kehidupan kita sekarang ini? Kebanyakan perabotan yang selalu digunakan dalam rumah tangga, kalau tidak terbuat dari bahan dasar plastik, pasti terbuat dari kaca atau pun logam. Sedikit sekali yang masih setia menggunakan barang-barang dari bahan dasar alam murni, yang bisa diuraikan kembali, jika ada pun tidak banyak.

Memang di zaman yang sudah semakin modern ini, kebanyakan orang lebih memilih barang sehari-hari yang sifatnya praktis tersebut (berbahan dasar plastik, kaca, atau logam). Serta banyak orang beranggapan kalau sekarang ini mengutamakan barang yang berkelas, glamour, dan tidak usang ditelan jaman, mungkin karena gengsi semata. Hal ini yang sebaiknya sedikit demi sedikit kita luruskan, mengapa demikian, karena memandang salah satu aspek yaitu bumi sudah tua dan global warming pun muncul. Penyebab itu diantaranya dari sampah yang tidak dapat diuraikan. Jadi jalan keluar terbaik bisa saja kita gunakan cara semacam ini, dengan kembali lagi pada barang-barang yang berbahan alam murni, sehingga bisa diuraikan. Disamping itu, juga sebagai upaya pelestariaan kerajinan masyarakat warisan dari zaman dulu, sehingga tidak hilang ditelan zaman.

Seperti yang telah dikembangkan oleh sebagian masyarakat di sepanjang Jalan. Raya Semarang-Solo, tepatnya Desa Widoro, Tapen, Tuntang, Semarang, yang berjualan aneka kerajinan yang terbuat dari bambu, meskipun bukan asli buatan daerah itu. Hari (31), salah satu penjual kerajianan bambu, mau berbagi cerita pada Pabelan Pos. Kata dia, dulu awal berdirinya orang-orang yang berjualan pada tahun 2007 hanya sekitar tiga orang. “Dulu cuma satu, dua, tiga orang saja yang jualan, jenis kerajianannya hanya kurungan ayam, anyaman bambu dan lainnya mas, tapi sekarang sudah bervariasi dan apek-apek mas,” ucapnya yang sudah sekitar dua tahun jualan. Sehingga, sekarang sudah sekitar 20 orang yang berjualan di daerah itu.

Hal serupa juga diceritakan oleh wanita yang tampak ramah ketika dimintai komentarnya. Muntamah (30), meskipun baru empat bulan berjaualan barang kerajinan bambu, namun dirinya sangat bangga menyebutkan produk-produk andalan yang banyak diminati oleh pembeli antara lain tutup saji (tutup makanan, red), caping gunung, dan sapu lidi unik. “Tapi yang paling banyak diminati pembeli yaitu tutup saji, biasanya yang membeli orang kota pake mobil mas, ya mungkin buat oleh-oleh saja, kata mereka uni,” katanya sambil menunjukkan produk tersebut.

“Tidak kalah dengan barang sekarang yang banyak terbuat dari plastik misalnya. Ini unik, harganya pun pas lah, ya meskipun bukan kami yang membuat, tapi yang buat dari Tasikmalaya dan Banjarnegara sih,” ujarnya tanpa ragu, menyebut produk yang dijajakan itu tidak kalah dengan buatan zaman sekarang. Soal harga kata dia, sangat terjangkau mulai dari Rp. 2.000,- sampai Rp. 45.000,-.

Kemudian disamping harganya terjangkau pandangan terhadap produk kerajinan bambu itu, menurut Muntamah, barang-barang itu unik, tidak mengandung zat kimia dan alamiah. “Saya kira lebih unik barang kerajinan ini, dari pada barang-barang zaman sekarang. Selain itu juga sangat aman, tidak mengandung bahan kimia karena benar-benar alami,” ujarnya meyakinkan.

Kebetulan siang itu juga ada pembeli. Pak Cucu, turun dari mobil petualngannya, kemudian memilih salah satu produk kerajinan baru, yaitu caping gunung. “Saya pasti kalau lewat daerah sini, tuh beli salah satu barang kerajinan, ini saya beli caping gunung untuk oleh-oleh saja,” katanya yang akan pulang ke kotanya Sumedang. (Asep)

sumber :

http://www.pabelan-online.com

link berita terkait :

aplikasi krey bambu

aplikasi krey bambu

Iklan